Keluaran 20:3 - “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”
Perhatikan juga kata “di hadapan-Ku”. Tuhan melihat langsung ke dalam hati kita. Kita bisa saja rajin beribadah, hafal banyak ayat, dan aktif melayani, tetapi Tuhan tetap melihat apa yang sebenarnya kita taruh di tempat paling utama.
Di zaman sekarang, kita mungkin tidak menyembah patung. Namun “allah lain” bisa hadir dalam rupa yang jauh lebih halus: pekerjaan yang menyita segalanya, uang yang kita jadikan sandaran rasa aman, gawai yang tak bisa lepas dari tangan, pengakuan orang lain yang kita kejar, bahkan keluarga atau pelayanan yang tanpa sadar kita tempatkan melebihi Tuhan sendiri. Hal-hal itu sebenarnya tidak selalu jahat. Masalah muncul ketika semuanya naik ke posisi yang seharusnya hanya milik Tuhan.
Tiga hal untuk direnungkan
- Utamakan AllahHanya Tuhan yang layak menerima penyembahan kita. Mengutamakan Dia bukan soal seberapa banyak waktu yang tersisa untuk-Nya setelah urusan lain selesai, melainkan soal Dia ada di awal: awal hari, awal keputusan, awal rencana. Jika Tuhan hanya mendapat sisa, berarti ada yang lain yang sedang kita utamakan.
- Jangan menggantikan AllahBerhati-hatilah dengan hal-hal baik yang pelan-pelan berubah menjadi pusat hidup. Ujian sederhananya: apa yang paling sulit kita lepaskan jika Tuhan memintanya? Di situlah mungkin ada “allah kecil” yang perlu kita serahkan kembali.
- Tetap setia kepada-NyaKesetiaan bukan keputusan sekali jadi, melainkan pilihan yang kita ulang setiap hari. Ada hari ketika kita bersemangat, ada hari ketika kita lelah dan tergoda mencari sandaran lain. Justru di hari-hari seperti itu kesetiaan kita terlihat, lewat penyembahan yang tulus dan ketaatan yang tetap dijalani meski tidak mudah.

